Banalitas Intelektual Dalam Sistem Pendidikan di Indonesia; Suatu Tinjauan dari Paradigma Kritis oleh Prof. Heru Nugroho

Draft wrote : February,26 2012

Published : May 2nd 2013

 

Akhirnya… ada kesempatan juga untuk tulisan ini di published. Ngapain juga ya ini tulisan dikubur selama 1 tahun ha…ha.  Dari judulnya aja kok rasanya berat banget ya, kok otak gw berasa kecanggihan ( mau gak mau,sebagai  mahasiswa Pasca Sarjana harus begini. titik! );D

Gw mau posting random notes tentang Indonesiaku. Content postingan sih lebih ke berita yang lagi happening aja dan juga ada cerita dari  Mata Kuliah Umum dari kampus yang menarik banget dengan tema “Banalitas Intelektual Dalam Sistem Pendidikan di Indonesia:  Suatu Tinjauan dari Paradigma Kritis “ yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Kajian Media dan Budaya Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Heru Nugroho.

Banalitas intelektual semakin merebak dalam dunia pendidikan saat ini, termasuk pada pendidikan tinggi. Fenomena ini ditandai dengan pendangkalan yang tidak disadari disertai dengan menurunnya kualitas akademik dan sekaligus merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi. (http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4446). diakses 2012.

 Para akademisi terlihat cenderung lebih mementingkan nilai pragmatis dari pada nilai-nilai pengetahuan, banyak melakukan penelitian tetapi hasilnya kurang terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tidak memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi.

Prof. Heru menegaskan perlunya adanya penguatan kultur akademik agar bisa mendorong etos kerja akademik dengan mewujudkan kelembagaan dan infrastruktur yang memadai untuk mereduksi banalitas intelektual di perguruan tinggi. Semisal, universitas memfasilitasi networking, seminar, perpustakaan, maupun publikasi di forum bergengsi.

Selain itu negara juga harus memberikan jaminan kesejahteraan kepada intelektual kampus. Tidak hanya dengan sertifikasi dosen dan tunjangan guru besar saja, tetapi setara dengan jaminan internasional.

Prof Heru menambahkan,dengan melakukan penguatan kelembagaan universitas berbasis disiplin, punishment, dan pengawasan sistem hingga mencapai internalisasi diri, dan mewujudkan jaminan kebebasan, independensi serta ketertiban akademik berbasis autran perundang-undangan nasional.

 Era tahun 80-an, kaum intelektual kampus dikritik, mereka dinilai hidup di menara gading, atau berumah diatas awan. Menara gading adalah sebuah ungkapan simbolik, dalam bahasa Inggris dikenal dengan ivory tower, yang bermakna tempat atau situasi yang terasing dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Dapat pula berarti sikap acuh tak acuh, tidak mau peduli, yang mengambil jarak ataupun menutup diri dari kehidupan masyarakat sehari-hari.  www.mercubuana.ac.id/696__“Banalitas_Intelektual_Dalam_Sistem_..

Kritik ini muncul karena ilmuan kala itu asyik dengan dunianya, dan tidak peduli dengan keadaan masyarakat saat itu. Sebagaimana diketahui saat itu sistem politik kita bersifat otoriter, berbagai kebijakan yang diambil oleh Negara cenderung mengorbankan kepentingan rakyat. Kaum cerdik pandai yang hidup di kampus diharapkan menjadi garda depan untuk melawan otoritarian tersebut justru tidak mampu berbuat banyak.

 Bahkan ada yang menjadi bagian dari sistem tersebut. Mereka mengeluarkan pendapat/mendaraskan dalil untuk menjustifikasi segala kebijakan yang tidak pro rakyat. Sehingga Budayawan Umar Khayam, kala itu menyindir organisasi perguruan tinggi di tanah air justru seperti “jawatan pemerintah.” 

Setelah rezim berganti, kritik terhadap kaum cerdik pandai tersebut tidak berhenti. Kini mereka tidak disebut bertengger di menara gading tapi terhinggapi menyakit banalitas intelektual (latin: banalita intellettuale). Fenomena ini ditandai dengan pendangkalan yang tidak disadari disertai dengan menurunnya kualitas akademik dan sekaligus merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi.

 

 Para akademisi terlihat cenderung lebih mementingkan nilai pragmatis dari pada nilai-nilai pengetahuan, banyak melakukan penelitian tetapi hasilnya kurang terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tidak memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi. 

 Mata kuliah yang disampaikan Prof Heru menurut gw sangat berhubungan dengan Brain Drain. Sekitar bulan Januari atau Februari 2012, gw baca artikel di Kompas yang ditulis juga oleh seorang dosen atau pakar ilmu dari UGM tapi lupa namanya ( korannya juga udah hilang) tentang Brain Drain. Sempet amazed jug baca artikelnya. Dan sewaktu ikut kuliah umum ini, gw jadi nyadar dan nyambungin masalah dari banalitas intelektual ke Brain Drain.

 

 Apa sih Brain Drain?

Brain Drain adalah fenomena yang berkembang di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Meskipun bukan hal yang baru, namun fenomena ini cukup memprihatinkan dalam satu dekade belakang ini di Indonesia. 

 Brain drain atau human capital flight, yaitu peristiwa hengkangnya tenaga ahli, pemikir, intelektual potensial kenegara lain yang pada umumnya lebih maju dibanding negara asalnya. Atas alasan minimnya kesempatan berkarya dan memberdayakan diri di tanah air, mereka hijrah ke negara yang memberikan kemungkinan lebih untuk mengembangkan diri dan mengembangkan ilmu yang dimilikinya. http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/05/14/ironi-brain-drain/. diakses 2012.

 Pada umumnya pelaku brain drain adalah pemuda potensial yang memiliki kemampuan diatas rata rata. Mereka adalah para akademisi, insinyur, ahli komputer, ahli tekhnologi informasi dan kedirgantaraan, ahli astronomi, dokter dan para ahli lainnya. Masa mudanya dihabiskan untuk berkarya dan melakukan sejumlah research di yang dibiayai oleh negara tujuannya, sehingga hasil karya dan temuannya dipatenkan di luar negeri. Indonesia harus membayar nilai royalti kepada negara asing untuk mengakses temuan anak bangsanya sendiri.

Mereka berpikir bahwa minimnya fasilitas yang diberikan oleh negara untuk kepentingan ilmu pengetahuan, minimnya fasilitas dan akses ke dunia internasional serta rendahnya penghargaan terhadap kemampuan dan kapasitas yang mereka miliki. Akhirnya mereka mencari negara yang memungkinkan kemampuan mereka bisa berkembang dan kemampuan yang mereka miliki dihargai dengan lebih baik.

Fenomena Sri Mulyani merupakan fenomena brain drain yang dilakukan oleh elit tekhnokrat yang dimiliki bangsa ini. Terlepas dari kemelut politik dan Skandal Century, Sri Mulyani merupakan ahli ekonomi dan keuangan yang potensial. Terpuruh di negeri sendiri, namun kini dia berkibar di lembaga keuangan internasional.

Menurut BJ Habibie (2011), tercatat bahwa ada sekitar 48 ribu tenaga ahli Indonesia dari jenjang pendidikan S2 hingga S3 dari berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal laut dan bidang sains lainnya yang disekolahkan ke luar negeri oleh pemerintah sejak zaman pemerintahan Soeharto dan Menristek Habibie ketika itu, sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Mereka ini telah menyebar ke berbagai negara maju seperti Amerika, Jepang, Prancis, Inggris, Jerman dan negara-negara maju lainnya.

( http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/24/brain-drain-masalah-fundamental-pembangunan-indonesia/ ) diakses 2012

 Akar persoalannya lebih pada kesempatan untuk bisa tumbuh dan berkembang. Pada umumnya anak muda yang memiliki kemampuan lebih sangat peduli terhadap pengembangan kapasitas diri. Logikanya, kalau mereka tidak bisa mendapatkan di negeri sendiri dia akan mencari di negeri lain.

 Untuk itu barangkali menciptakan kemungkinan untuk berkembang dan mendapatkan fasilitas lebih akan mampu menahan laju brain drain dan pada gilirannya akan mampu menarik kembali ilmuwan muda dan para ahli asal Indonesia untuk kembali dan mengabdikan diri “kerumah sendiri”. India adalah salah satu negara di di Asia yang berhasil menarik para ahlinya yang berserakan di luar negeri. http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/24/brain-drain-masalah-fundamental-pembangunan-indonesia/. Diakses 2012.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: