I lost my wordpress blog galz25

Sedih deh ketika awal bulan Januari lalu mau sign in wordpress dengan akun galz25 tiba-tiba udah suspended.

Emang sih udah lama banget gak update pernah nulis di blog itu karena kesibukan kuliah pascasarjana, kerja dan mengajar.

Memang gue blogger junior, masih piyik banget lah di dunia blogging. Akun itu dibuat tahun 2009, udah banyak postingan, teman-teman blogger ,plus akun email mereka. Dan karena sekarang blog itu di suspended otomatis udah gak bisa cari tahu blog mereka apa. But thanks God I made this 2nd blog http://www.titiptulisan.wordpress.com di tahun yang sama.

Semoga yang ini gak ke suspend lagi 😄😄

Senangnya kembali nge-blog!

Advertisements

Leave a comment »

Blog Yang Tak Kembali

Judul postingan ini  versi panjang dari judul blog kemarin pake bawa nama Cinta dan Rangga ha…ha..ha

Emang agak kayak judul sinetron. Intinya gue sedih dan nyesek berkepanjangan  sama blog http://www.galz25.wordpress.com yang tetiba suspended by WordPress karena mungkin lama gak di update atau apalah gak tahu. kemarin tiba-tiba udah gak bisa dibuka.  Padahal itu memori cerita dan foto-foto banyak banget. Blog temen-temen baru kenal di WordPress juga ( yang sayangnya lupa apa nama blog mereka).  Blog galz25 dibikin bareng sama blog  http://www.titiptulisan.wordpress.com di tahun 2009. Di tahun itu gue coba belajar nge-blog dan tahu apa itu blog, cara nulis di blog, cara nulis blog via email yang linked sama blog  dan blog walking. Pokonya banyak belajar deh sama temen-temen yang ahli. Dari blog itu, gue ikutan lomba nulis blog untuk Detik blog kalau gak salah di hari 17 Agustus dan Hari Pahlawan. Meski gak menang tapi link blognya kepilih masuk finalis ( dari 100 an orang gitu deh ha..ha entah gue nomor berapa, finalis ke 60 atau 70).

Ya sudahlah gue bertahan dengan blog ini saja…. meskipun suka males nulis ( katanya mau jadi blogger ih kamu teh….. Duh abdi tunduh pisan lah…)

Leave a comment »

Goodbye my suspended blog (2009-2017)

😭😭😭😭😭😭😭

 

Teringat kata Cinta ke Rangga : ” apa yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!!!!”

 

😄😄😄😄😄😄😄😄

Leave a comment »

Oh..What A Comfort Toilet!

toilet……. yes! tempat paling melegakan jika kita udah bisa “nyetor” , karena udah nahan berjam-jam buang air kecil atau –maaf—BAB yang kondisinya mules atau mules tingkat dewa  Ya, toilet sekarang malah jadi tempat pe-we *(posisi wuenak) buat selfie. Tapi kalian tahu gak sih, toilet yang nyaman di mal-mal Jakarta, yang bersih, wangi, teratur rapi, dan canggih? dan pastinya sih gak ada pungutan biaya Rp 2000 ya, karena buat gw itu juga gak berguna kalau kebersihan toiletnya juga tetap gak dijaga.

Menurut gue ada beberapa toilet nyaman versi gue di mal-mal Jakarta (yang paling OK sih memang mal-mal yang baru ya….), beberapa diantaranya ini nih, tapi sorry gue gak attached foto-fotonya karena gak tau ya gue kok rada parno fotoin toilet umum. Gw parno karena penampakan hahahhaha…. so you better googling ya friends atau coba ke malnya aja,

1. Lotte Shopping Avenue – Casablanca

2. Grand Indonesia

3. Plaza Indonesia

4, Plaza Senayan

5. Mal Kelapa Gading

Comments (2) »

Keep on da spirit! bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian

Wow, setelah berjuang entah berapa bulan gak kehitung, melewati seminar-seminar yang diadakan temen-temen kampus, dan bimbingan sih tinggal 1x lagi ( 6x total keseluruhan), akhirnyadosen pembimbing gw menetapkan tanggal seminar proposal thesis / sidang terbuka gw ,Sabtu 8 Juni 2013,  yang artinya temen-temen kampus bisa melihat gw presentasi proposal thesis Bab 1 sampai Bab 3. Baru dikasih tahu tanggal seminar begini aja udah nervous,merinding disko ini badan hahaha……..

Actually gak akan mengira kalau secepat ini karena memang bikin thesis yang ngebut juga gak, pelan juga gak. speednya malah gak bisa dirasain.Gw cenderung santai, tapi karena terus di push, dikasih semangat sama dosen pembimbing,kayaknya itu nyetrum banget ke gw, apa mungkin juga gw sungkan karena dosen pembimbing gw Kaprodi jurusan gw hahahha………… itulah gunanya dosen pembimbing; memotivasi mahasiswa bimbingannya untuk fokus menyelesaikan studi. Masak sih ada dosen pembimbing yang bikin lama mahasiswanya di kampus terus hehehe….gak ada kok.

Matur nuwun sanget untuk keluarga, teman-teman yang selalu memberikan motivasi, saran, kritik dan semangat positif setiap hari, sampai saat ini. Terutama temen-temen Magister Ilmu Komunikasi UMB – MKOM 406, 201. I love you all! My past, a great man. hei handsome, Could it be love? (kata pengantar sekalian curcol kali ya :D)

 

Keep spirit, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Terserah habis itu plesiran kemana aja hayuk

Leave a comment »

Broad your mind with social media; Learn good and bad news.

Minggu lalu, tanggal 17 April 2013, gw dan beberapa temen-temen Pasca Sarjana Komunikasi UMB, ikutan Seminar dan Workshop di acara  Pekan Komunikasi 2013, yaitu PRVaganza, yang diadakan anak-anak FISIP UI. Acaranya was really awesome banget ya, which is, gw anak komunikasi yang menyukai dunia ke PR-an juga jadinya semangat.kebetulan juga salah satu speakernya adalah Silih Agung Wasesa, salah satu dosen di London School, dan pernah mengajar kelas ’ LOGIKA”. Di sesi pak Silih ini , beliau presented tentang Branding, Social Media dan Politic Communication. This is so much fun! Segala aya! dari branding produk sampai personal branding, Crisis, Image, dan juga Reputation masuk ke pembahasan. Dan kadang-kadang peserta ngakak jaya soalnya Pak Silih ngejelasin dengan bahasa yang informal, santai, asik banget!

Satu yang gw inget adalah tentang social media, yang dibahas pada workshopnya Pak Silih. Di seminar PR In Digital Era, Menurut speakers dari Asia PR, Mas Adi, dan Mas Andy,dan juga Mr David (Manager Of Vocanic.com), sekitar 60% masyarakat Indonesia ONLINE lewat internet yang menggunakan modem, Wi-fi, Hotspot), dan 87% mengakses internet via mobile device. Dan hari gini, siapa yang gak punya akun social media; you named it Twitter, Facebook, Path, Instagram dll,  gak mungkin banget, secara semua sekarang eranya Blackberry, Iphone, dan Android.

 Pak Silih bilang, ” jaman dulu tuh ya, makan itu berdoa dulu. sekarang bukannya berdoa, malah foto2in makanannya, terus diposting. Update status ke FB dan Twitter”.

 Emang dahsyat deh ya social media ini……….aseloleee….

Ibu Marlene Danusoetedjo, PR Officer Four Seasons Hotel Jakarta, bilang juga nih, kalau sekarang tuh si mimin twitter kebanjiran job ( admin ). Mimin harus rajin jawab twitteran akun-akun. (Fyi, Bu Marlene di seminar ini presented tentang Customer Retention Management) ” Sekarang ini, siapa sih yang gak pakai foursquare; walaupun jadul banget ya. lalu ada Pinterest,Instagram,Path. Dan saya punya Path lho.. ” kata Bu Marlene bangga.

 Bu Marlene cerita lagi tentang twit pagi hari tentang sebuah komplain di hotelnya. ” lha,suatu pagi yang cerah,di kantor saya, hotel saya, ada customer ( bapak-bapak), tiba-tiba nge twit gara2 service pelayanan nganter kopi aja lama banget. Gara-garanya coffee maker hotel sedang rusak, jadi proses pembuatannya agak lama. Jadinya masalah pesen kopi jadi dibandingkan sama servicenya hotel lain cerita deh.” Bu Marlene menambahkan, ”nah disitulah dahsyatnya social media. Efek penyebarannya sangat cepat. ”

Nah dari pengalaman dan mendapat ilmu yang banyak dari seminar dan workshop itu, dan juga gw pribadi pun punya akun social media, memang bener berasa banget ya info-info yang didapat di social media itu sangat buanyaaak, various news, dan pastinya berisi berita positif dan negatif. Pengalaman gw sendiri nih dengan social media, mendapatkan banyak teman, informasi yang bermanfaat, bisa twitteran langsung sama artis-artis yang menurut gw emang layak untuk di follow, karena mereka2 smart, tweetnya berbobot dan gak neko-neko, ada kontribusi buat film, musik, lifestyle, fashion, culinary dll di Indonesia. Beberapa artis-artis yang gw follow  ada Rossa, Tompi, Mocca , dan kadang-kadang yang selalu reply adalah Denada Tambunan (@d3nada), Be3friends, Trio Be Three ( Widi, Nola, Cynthia; yang sering reply Widi dan Nola), Sophie Navita (@SophieNavita; istri Pongky Jikustik).

 Kalau yang sekedar untuk have fun, gak penting,. gw follow si cetar membahana Syahrini (@PrincessSyahrini). 😀

Nah balik lagi ke masalah social media. Pak Silih sempet nanya ke semua peserta, siapa yang tiap pagi baca koran, at least headlinenya aja. No one raised their hand up. Feedback yang sama juga terjadi ketika Pak Silih tanya siapa yang nonton TV. Dan ketika Pak Silih nanya siapa yang baca twitter / fb, eh malah raise hand up semua. Terbukti kan bahwa Twitter atau FB atau si social media pengaruhnya lebih besar daripada media cetak, bukan berarti media cetak (koran, majalah ) gak menarik dan gak jadi konsumsi publik lagi.

 Pak Silih explained more ,” hari gini kalo gak ” main ” social media, entah itu twitter, FB, mending jangan banyak omong, mending ke laut aja deh ya”. Kenapa Pak Silih bilang gitu? Karena orang yang gak pernah get involved in social media, they don’t know nothing, terus tiba2 suka ngomongin social media ngalur ngidul.” ada tuh orang kayak gitu, pas waktu saya tanya, bapak akun fbnya apa, twitternya apa? Dia bilang ” saya pakainya Friendster“.  satu ruangan workshop pun ketawa ngakak. 

Pak Silih bilang, “Makanya nih,PR Manager,Kepala Humas atau Divisi Komunikasi apapun,  kalau nggak aktif Facebook atau social media lainnya, gak asik, gak gaul, ya ketinggalan berita what is going on– dan seperti nggak punya tangan dan kaki. Jadi yang belum punya FB account, kudu harus, dan jangan cuman be there aja, tetapi aktif menggunakannya dengan baik. Buat citra yang oke di media ini. Intinya social networking secara online itu sudah mandatory bagi PR Manager.

 Pak Silih nambahin lagi “ dari social media kita belajar untuk tahu bad and good news. Dari social media, Kita bisa pilah-pilah  mana berita yang baik buat kita, dan yang buruknya kita cukup tahu aja, dan dibuang jauh-jauh 

Melihat antusiasme para pengguna internet terhadap situs media sosial, tentu saja situs media sosial ini akan menimbulkan dampak positif dan negatif secara bersamaan kepada para penggunanya. Berikut ini beberapa dampak positif dan negatif dari media sosial.

Nah, ada link yang bagus nih yang menjelaskan tentang dampak positif dan negatif social media. ternyata serem juga negatifnya dari social media ini…. klik ya http://pandusantoso.com/dampak-positif-dan-negatif-dari-media-sosial/

Note: terima kasih ya mas Pandu, informasinya bermanfaat sekali 🙂

 

written at Mc Donald Senayan Trade Center,Jakarta, with excellent WI-FI connection.Thanks MC Donald! I relly lovin it!

Leave a comment »

Banalitas Intelektual Dalam Sistem Pendidikan di Indonesia; Suatu Tinjauan dari Paradigma Kritis oleh Prof. Heru Nugroho

Draft wrote : February,26 2012

Published : May 2nd 2013

 

Akhirnya… ada kesempatan juga untuk tulisan ini di published. Ngapain juga ya ini tulisan dikubur selama 1 tahun ha…ha.  Dari judulnya aja kok rasanya berat banget ya, kok otak gw berasa kecanggihan ( mau gak mau,sebagai  mahasiswa Pasca Sarjana harus begini. titik! );D

Gw mau posting random notes tentang Indonesiaku. Content postingan sih lebih ke berita yang lagi happening aja dan juga ada cerita dari  Mata Kuliah Umum dari kampus yang menarik banget dengan tema “Banalitas Intelektual Dalam Sistem Pendidikan di Indonesia:  Suatu Tinjauan dari Paradigma Kritis “ yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Kajian Media dan Budaya Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Heru Nugroho.

Banalitas intelektual semakin merebak dalam dunia pendidikan saat ini, termasuk pada pendidikan tinggi. Fenomena ini ditandai dengan pendangkalan yang tidak disadari disertai dengan menurunnya kualitas akademik dan sekaligus merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi. (http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4446). diakses 2012.

 Para akademisi terlihat cenderung lebih mementingkan nilai pragmatis dari pada nilai-nilai pengetahuan, banyak melakukan penelitian tetapi hasilnya kurang terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tidak memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi.

Prof. Heru menegaskan perlunya adanya penguatan kultur akademik agar bisa mendorong etos kerja akademik dengan mewujudkan kelembagaan dan infrastruktur yang memadai untuk mereduksi banalitas intelektual di perguruan tinggi. Semisal, universitas memfasilitasi networking, seminar, perpustakaan, maupun publikasi di forum bergengsi.

Selain itu negara juga harus memberikan jaminan kesejahteraan kepada intelektual kampus. Tidak hanya dengan sertifikasi dosen dan tunjangan guru besar saja, tetapi setara dengan jaminan internasional.

Prof Heru menambahkan,dengan melakukan penguatan kelembagaan universitas berbasis disiplin, punishment, dan pengawasan sistem hingga mencapai internalisasi diri, dan mewujudkan jaminan kebebasan, independensi serta ketertiban akademik berbasis autran perundang-undangan nasional.

 Era tahun 80-an, kaum intelektual kampus dikritik, mereka dinilai hidup di menara gading, atau berumah diatas awan. Menara gading adalah sebuah ungkapan simbolik, dalam bahasa Inggris dikenal dengan ivory tower, yang bermakna tempat atau situasi yang terasing dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Dapat pula berarti sikap acuh tak acuh, tidak mau peduli, yang mengambil jarak ataupun menutup diri dari kehidupan masyarakat sehari-hari.  www.mercubuana.ac.id/696__“Banalitas_Intelektual_Dalam_Sistem_..

Kritik ini muncul karena ilmuan kala itu asyik dengan dunianya, dan tidak peduli dengan keadaan masyarakat saat itu. Sebagaimana diketahui saat itu sistem politik kita bersifat otoriter, berbagai kebijakan yang diambil oleh Negara cenderung mengorbankan kepentingan rakyat. Kaum cerdik pandai yang hidup di kampus diharapkan menjadi garda depan untuk melawan otoritarian tersebut justru tidak mampu berbuat banyak.

 Bahkan ada yang menjadi bagian dari sistem tersebut. Mereka mengeluarkan pendapat/mendaraskan dalil untuk menjustifikasi segala kebijakan yang tidak pro rakyat. Sehingga Budayawan Umar Khayam, kala itu menyindir organisasi perguruan tinggi di tanah air justru seperti “jawatan pemerintah.” 

Setelah rezim berganti, kritik terhadap kaum cerdik pandai tersebut tidak berhenti. Kini mereka tidak disebut bertengger di menara gading tapi terhinggapi menyakit banalitas intelektual (latin: banalita intellettuale). Fenomena ini ditandai dengan pendangkalan yang tidak disadari disertai dengan menurunnya kualitas akademik dan sekaligus merosotnya komitmen terhadap bidang ilmu yang digeluti para akademisi.

 

 Para akademisi terlihat cenderung lebih mementingkan nilai pragmatis dari pada nilai-nilai pengetahuan, banyak melakukan penelitian tetapi hasilnya kurang terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tidak memiliki semangat kerja dan asketisme akademik yang tinggi. 

 Mata kuliah yang disampaikan Prof Heru menurut gw sangat berhubungan dengan Brain Drain. Sekitar bulan Januari atau Februari 2012, gw baca artikel di Kompas yang ditulis juga oleh seorang dosen atau pakar ilmu dari UGM tapi lupa namanya ( korannya juga udah hilang) tentang Brain Drain. Sempet amazed jug baca artikelnya. Dan sewaktu ikut kuliah umum ini, gw jadi nyadar dan nyambungin masalah dari banalitas intelektual ke Brain Drain.

 

 Apa sih Brain Drain?

Brain Drain adalah fenomena yang berkembang di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Meskipun bukan hal yang baru, namun fenomena ini cukup memprihatinkan dalam satu dekade belakang ini di Indonesia. 

 Brain drain atau human capital flight, yaitu peristiwa hengkangnya tenaga ahli, pemikir, intelektual potensial kenegara lain yang pada umumnya lebih maju dibanding negara asalnya. Atas alasan minimnya kesempatan berkarya dan memberdayakan diri di tanah air, mereka hijrah ke negara yang memberikan kemungkinan lebih untuk mengembangkan diri dan mengembangkan ilmu yang dimilikinya. http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/05/14/ironi-brain-drain/. diakses 2012.

 Pada umumnya pelaku brain drain adalah pemuda potensial yang memiliki kemampuan diatas rata rata. Mereka adalah para akademisi, insinyur, ahli komputer, ahli tekhnologi informasi dan kedirgantaraan, ahli astronomi, dokter dan para ahli lainnya. Masa mudanya dihabiskan untuk berkarya dan melakukan sejumlah research di yang dibiayai oleh negara tujuannya, sehingga hasil karya dan temuannya dipatenkan di luar negeri. Indonesia harus membayar nilai royalti kepada negara asing untuk mengakses temuan anak bangsanya sendiri.

Mereka berpikir bahwa minimnya fasilitas yang diberikan oleh negara untuk kepentingan ilmu pengetahuan, minimnya fasilitas dan akses ke dunia internasional serta rendahnya penghargaan terhadap kemampuan dan kapasitas yang mereka miliki. Akhirnya mereka mencari negara yang memungkinkan kemampuan mereka bisa berkembang dan kemampuan yang mereka miliki dihargai dengan lebih baik.

Fenomena Sri Mulyani merupakan fenomena brain drain yang dilakukan oleh elit tekhnokrat yang dimiliki bangsa ini. Terlepas dari kemelut politik dan Skandal Century, Sri Mulyani merupakan ahli ekonomi dan keuangan yang potensial. Terpuruh di negeri sendiri, namun kini dia berkibar di lembaga keuangan internasional.

Menurut BJ Habibie (2011), tercatat bahwa ada sekitar 48 ribu tenaga ahli Indonesia dari jenjang pendidikan S2 hingga S3 dari berbagai bidang seperti ahli penerbangan, kapal laut dan bidang sains lainnya yang disekolahkan ke luar negeri oleh pemerintah sejak zaman pemerintahan Soeharto dan Menristek Habibie ketika itu, sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Mereka ini telah menyebar ke berbagai negara maju seperti Amerika, Jepang, Prancis, Inggris, Jerman dan negara-negara maju lainnya.

( http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/24/brain-drain-masalah-fundamental-pembangunan-indonesia/ ) diakses 2012

 Akar persoalannya lebih pada kesempatan untuk bisa tumbuh dan berkembang. Pada umumnya anak muda yang memiliki kemampuan lebih sangat peduli terhadap pengembangan kapasitas diri. Logikanya, kalau mereka tidak bisa mendapatkan di negeri sendiri dia akan mencari di negeri lain.

 Untuk itu barangkali menciptakan kemungkinan untuk berkembang dan mendapatkan fasilitas lebih akan mampu menahan laju brain drain dan pada gilirannya akan mampu menarik kembali ilmuwan muda dan para ahli asal Indonesia untuk kembali dan mengabdikan diri “kerumah sendiri”. India adalah salah satu negara di di Asia yang berhasil menarik para ahlinya yang berserakan di luar negeri. http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/24/brain-drain-masalah-fundamental-pembangunan-indonesia/. Diakses 2012.

 

Leave a comment »